Category Archives: BERITA

Harlah SMK ARSI ke-2

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 2, SMK Arya Singasari Larangan yang berbasis Pesantren yang berdomisili di wilayah Kecamatan Larangan Kab. Brebes menggelar acara Festival Rebana Klasik.

Dan acara tersebut di ikuti puluhan peserta baik dari sekolah setingkat SMP/MTs se kecamatan larangan juga peserta umum lain nya.

Unik nya, setiap peserta rebana klasik ini wajib menampilkan lagu Ya Rosulullah dengan versi Tum Hi Ho ala india dan satu lagu bebas.

Acara tersebut di gelar pada tanggal 6 maret 2017, pukul 13.00 sampai selesai.

Acara di lanjutkan pada malam hari nya dengan agenda Pengajian Umum dengan pembicara KH. Chalwani Nawawi dari Purworejo.

Dan pelantikan Komisariat IPNU IPPNU SMK ARSI sebagai rangkaian puncak acara nya.

Bagikan ke:

Cara Mbah Hasyim Asy’ari Mengajari Perbedaan Hari Raya

Maksum Ali Seblak Jombang adalah diantara ulama pesantren yang ahli falak (astronomi). Sudah menjadi kelaziman bagi ahli falak untuk melakukan puasa dan lebaran sesuai hasil hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi atau melihat hilal)-nya sendiri.

Suatu hari sesuai dengan hasil perhitungannya, Kyai Maksum Ali memutuskan untuk ber-Idul Fitri sendiri yang ditandai dengan menabuh bedug bertalu-talu. Mendengar keriuhan itu, sang mertua, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari kaget. Setelah tahu duduk perkaranya, ia menegur: “Bagaimana ini, belum saatnya lebaran kok bedug-an duluan?”

Mendapat teguran dari mertuanya itu Kyai Maksum segera menjawab dengan hormat: “Kyai, Kyai, saya melaksanakan Idul Fitri sesuai dengan hasil hisab yang saya yakini ketepatannya.”

“Soal keyakinan, ya keyakinan, itu boleh dilaksanakan. Tetapi jangan woro-woro (diumumkan dalam bentuk tabuh bedug) mengajak tetangga segala,” gugat Mbah Hasyim, pendiri NU tersebut.

“Tetapi, bukankah pengetahuan ini harus di-ikhbar-kan (diwartakan), Romo?” tanya Kyai Maksum.

“Soal keyakinan itu hanya bisa dipakai untuk diri sendiri. Dan nabuh bedug itu artinya sudah mengajak, mengumumkan kepada masyarakat, itu bukan hakmu. Untuk mengumumkan kepastian Idul Fitri itu haknya pemerintah yang sah,” tutur Mbah Hasyim.

“Inggih (iya) Romo,” jawab Kyai Maksum setelah menyadari kekhilafannya.

 

(Sumber: KH. Ghazalie Masroerie, Ketua Umum Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama).

Bagikan ke:

Lonceng ARSI

LONCENG ARSI v1.6
Aplikasi Bel Sekolah Otomatis

Fitur:
1. Shutdown timer, untuk mematikan komputer sesuai waktu yang anda tentukan.
2. Terdapat 16 Pilihan Profil yang dapat disesuaikan dengan kondisi kegiatan sekolah (KBM, UAS, Ekstra dlsb).
3. Sound file (musik) tidak harus satu, anda dapat menggunakan dua atau lebih sound file sesuai kebutuhan.

Note: Aplikasi ini bersifat gratis, anda berhak untuk mendistribusikan kepada siapapun selama tidak bertujuan komersil

 

Download Aplikasi (3.6 MB)

Download Suara Bel KBM (10.8 MB)

Download Suara Bel UTS (5.5 MB)

Download Suara Bel UAS (5 MB)

Bagikan ke:

PUASA 6 HARI BULAN SYAWAL

قوله صلى الله عليه وسلم : ( من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر )

فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعي وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة ، وقال مالك وأبو حنيفة : يكره ذلك ، قال مالك في الموطإ : ما رأيت أحدا من أهل العلم يصومها ، قالوا : فيكره ؛ لئلا يظن وجوبه . ودليل الشافعي وموافقيه هذا الحديث الصحيح الصريح ، وإذا ثبتت السنة لا تترك لترك بعض الناس أو أكثرهم أو كلهم لها ، وقولهم : قد يظن وجوبها ، ينتقض بصوم عرفة وعاشوراء وغيرهما من الصوم المندوب . قال أصحابنا : والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر ، فإن فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى أواخره حصلت فضيلة المتابعة ؛ لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال ، قال العلماء : وإنما كان ذلك كصيام الدهر ؛ لأن الحسنة بعشر أمثالها ، فرمضان بعشرة أشهر ، والستة بشهرين ، وقد جاء هذا في حديث مرفوع في كتاب النسائي .

وقوله صلى الله عليه وسلم : ( ستا من شوال ) صحيح ، ولو قال : ( ستة ) بالهاء جاز أيضا ، قال أهل اللغة : يقال : صمنا خمسا وستا وخمسة وستة ، وإنما يلتزمون الهاء في المذكر إذا ذكروه بلفظه صريحا ، فيقولون : صمنا ستة أيام ، ولا يجوز : ست أيام ، فإذا حذفوا الأيام جاز الوجهان ، ومما جاء حذف الهاء فيه من المذكر إذا لم يذكر بلفظه قوله تعالى : { يتربصن بأنفسهن أربعة أشهر وعشرا } أي : عشرة أيام ، وقد بسطت إيضاح هذه المسألة في تهذيب الأسماء واللغات ، وفي شرح المهذب . والله أعلم .

 

Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim). Dalil ini yang dibuat pijakan kuat madzhab syafi’i, Ahmad Bin hanbal dan Abu Daud tentang kesunahan menjalankan puasa 6 hari dibulan syawal, sedang Abu hanifah memakruhkan menjalaninya dengan argument agar tidak memberi prasangka akan wajibnya puasa tersebut… Para pengikut kalangan syafi’i menilai yang lebih utama menjalaninya berurutan secara terus-menerus (mulai hari kedua syawal) namun andaikan dilakukan dengan dipisah-pisah atau dilakukan diakhir bulan syawal pun juga masih mendapatkan keutamaan sebagaimana hadits diatas. Ulama berkata “alasan menyamainya puasa setahun penuh berdasarkan bahwa satu kebaikan menyamai sepuluh kebaikan, dengan demikian bulan ramadhan menyamai sepuluh bulan lain, dan 6 hari dibulan syawal menyamai dua bulan lainnya (6×10=60=2 bulan). Sumber : Syarh nawaawi ‘ala Muslim VIII/56

Bagikan ke:

SEJARAH HARI JUM’AT

Hari Jum’at adalah sayyidul ayyam. Artinya Jum’at mempunyai keistemewaan dibandingkan hari lain. Jika nama-nama hari yang lain menunjukkan urutan angka (ahad artinya hari pertama, itsnain atau senin adalah hari kedua, tsulatsa atau selasa adalah hari ketiga, arbi’a atau Rabu adalah hari keempat dan khamis atau kamis adalah hari kelima), maka Jum’at adalah jumlah dari kesemuanya.

Menurut sebagian riwayat kata Jum’at diambil dari kata jama’a yang artinya berkumpul. Yaitu hari perjumpaan atau hari bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rahmah. Kata Jum’at juga bisa diartikan sebagai waktu berkumpulnya umat muslim untuk melaksanakan kebaikan –shalat Jum’at-.

Salah satu bukti keistimewaan hari Jum’at adalah disyariatkannya sholat Jum’at. Yaitu shalat dhuhur berjamaah pada hari Jum’at. -Jum’atan-. Bahkan mandinya hari Jum’at pun mengandung unsur ibadah, karena hukumnya sunnah.

Dalam Al-Hawi Kabir karya al-Mawardi, Imam Syafi’i menjelaskan sunnahnya mandi pada hari Jum’at. Meskipun sholat Jum’at dilaksanakan pada waktu sholat dhuhur, namun mandi Jum’at boleh dilakukan semenjak dini hari, setelah terbit fajar. Salah satu hadits menerangkan bahwa siapa yang mandi pada hari Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at, maka Allah akan mengampuni dosa di antara dua Jum’at.

Oleh karena itu, baiknya kita selalu menyertakan niat setiap mandi di pagi hari Jum’at. Karena hal itu akan memberikan nilai ibadah pada mandi kita. Inilah yang membedakan mandi di pagi hari Jum’at dengan mandi-mandi yang lain.

Kenapa harus Empat Puluh Orang?

Shalat Jum’at -Jum’atan- bisa dianggap sebagai muktamar mingguan –mu’tamar usbu’iy- yang mempunyai nilai kemasyarakatan sangat tinggi. Karena pada hari Jum’at inilah umat muslim dalam satu daerah tertentu dipertemukan.

Mereka dapat saling berjumpa, bersilaturrahim, bertegur sapa, saling menjalin keakraban. Dalam kehidupan desa Jum’atan dapat dijadikan sebagai wahana anjangsana. Mereka yang mukim di daerah barat bisa bertemu dengan kelompok timur dan sebagainya.

Begitu pula dalam lingkup perkotaan, Jum’atan ternyata mampu menjalin kebersamaan antar karyawan. Mereka yang setiap harinya sibuk bekerja di lantai enam, bisa bertemu sesama karyawan yang hari-harinya bekerja di lantai tiga dan seterusnya.

Kebersamaan dan silaturrahim ini tentunya sulit terjadi jikalau Jum’atan boleh dilakukan seorang diri seperti pendapat Ibnu Hazm, atau cukup dengan dua orang saja seperti qaul-nya Imam Nakho’i, atau pendapat Imam Hanafi yang memperbolehkan Jum’atan dengan tiga orang saja berikut Imamnya.

Oleh sebab itu menurut Imam Syafi’i Jum’atan bisa dianggap sah jika diikuti oleh empat puluh orang lelaki. Dengan kat lain, penentuan empat puluh lelaki sebagai syarat sah sholat Jum’at oleh Imam Syafi’i memiliki faedah yang luar bisa.

Hal ini membuktikan betapa epistemogi aswaja -ahlussunnah wal jama’ah- yang dipraktikkan oleh Imam Syafi’i selalu mendahulukan kepentingan bersama. Kebersamaan dan persatuan umat dalam pola pikir aswaja -ahlussunnah wal jama’ah- adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya dalam ranah aqidah dan politik saja, tetapi juga dalam konteks ibadah.

Keutamaan Hari Jum’at

Ketahuilah bahwa hari Jum’at adalah hari yang agung. Allah mengagungkan orang Islam dan agama Islam dengan hari jum’at. Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang beriman, bilamana kamu diserukan untuk shalat pada hari jum’at, maka hendaklah kamu pergi mengingat Allah (shalat Jum’at) dan tinggalkanlah jual beli,,, (QS.62 Al Jumu’ah:9)”.

Dalam ayat ini Allah mengharamkan menyibukkan diri dalam urusan dunia atau sesuatu pun yang bisa memalingkan pergi jum’atan.

Nabi SAW bersabda:

“Barangsiapa yang meninggalkan jum’at sampai 3X tanpa ada uzur (alasan), maka Allah akan menutup hatinya”.

Lafadz lain mengatakan:

“Maka dia sungguh telah membuang Islam di belakang punggungnya”.

Ada seorang lelaki berdebat dengan Ibnu Abbas RA. Dia menanyakan kepada Ibnu Abbas RA tentang lelaki yang mati dan tidak pernah jum’atan (shalat jum’at) atau jama’ah. Maka Ibnu Abbas RA berkata: “Dia masuk neraka”.

Pria tersebut masih kesana kemari menanyakan status pria yang dimaksud, dan tetap dikatakan:

“Dia masuk neraka”.

Dalam hadits:

“Sesungguhnya orang-orang yang memiliki 2 Kitab diberikan pada hari jum’at, mereka tetap berselisih dan berpaling: Allah menunjukkan pada hari ini. Dia mengakhiri dan menciptakan hari tersebut sebagai hari raya,,,”.

Hadits Annas RA bahwa Nabi SAW bersabda:

Jibril datang padaku, ditangannya ada cermin putih, dia berkata:

“Ini adalah hari jum’at, Tuhanmu mewajibkan padamu agar menjadi hari raya untukmu dan untuk umatmu sepeninggalmu”.

Hari Jum’at adalah pemimpin semua hari, dan kelak pada hari kiamat kita akan menyebutkan sebagai Hari Tambahan. Aku (Nabi SAW) berkata:

“Mengapa begitu”.

Jibril menjawab:

“Sesungguhnya Tuhanmu ‘Azza Wa Jalla membuat lembah yang baunya amat semerbak dan putih warnanya. Bila datang hari jum’at, maka Allah akan turun dari Illiyyin menuju Kursi-Nya dan melihat mereka, sampai mereka bisa memandang DzatNya yang Agung”.

Nabi SAW bersabda:

“Sebaik-baik matahari terbit ialah hari Jum’at. Hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, diturunkan ke bumi, diterima tobatny, hari kematiannya dan hari akan datangnya kiamat. Hari itu menurut Allah adalah hari tambahan. Pada hari itu para malaikat bisa menyebut di langit, dia adalah hari dimana bisa memandang Allah dalam surga”.

Riwayat Annas RA bahwa Nabi SAW bersabda:

“Bilamana di hari Jum’at selamat, maka akan selamat semua hari”.

Nabi SAW bersabda;

“Sesungguhnya neraka Jahim tiap hari apinya menyala pada saat zawal dan istiwa’. (Zawal: matahari sedikit tergelincir dari tengah langit. Dan Istiwa’; matahari tepat ditengah/atas) dalam jantung langit. Pada saat itu janganlah shalat kecuali hari Jum’at tanpa terkecuali, sebab neraka Jahannam menyala pada saat-saat seperti itu”.

Ka’ab berkata:

“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla lebih mengutamakan kota Mekkah daripada kota-kota lain (negara lain), mengutamakan Ramadhan diantara bulan-bulan dan mengutamakan hari Jum’at diantara sekian hari-hari”.

Sabda Nabi SAW:

“Barangsiapa yang mati pada hari Jum’at atau malam jum’at, maka pahalanya ditulis seperti matinya syahid, dan akan dijauhkan dari siksa (fitnah) kubur”.

Bagikan ke: